PENGUJIAN PENYALAHGUNAAN WEWENANG DI PTUN

Bibianus Hengky Widhi Antoro

Abstract


ABSTRAK

Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan, dan Peraturan Mahkamah Agung telah memperluas kewenangan absolut (absolute competence) PTUN untuk menguji unsur penyalahgunaan wewenang, sehingga memberikan ruang bagi badan dan/atau pejabat pemerintahan yang merasa kepentingannya dirugikan oleh hasil pengawasan aparat pengawasan intern pemerintah (APIP). Pada praktiknya terdapat silang sengkarut dalam implementasi konsep paradigma baru tersebut. Hal tampak antara lain pada Putusan PTUN Medan Nomor 25/G/2015/PTUN-MDN dan Putusan PTUN Jambi Nomor 2/P/PW/2017/PTUN.JBI. Dalam putusan-putusan tersebut, terdapat persoalan dalam pengujian unsur penyalahgunaan wewenang terhadap Putusan PTUN Medan dan Putusan PTUN Jambi, yakni apakah sudah sesuai dengan prinsip dan norma dalam hukum administrasi. Dalam artikel ini, penulis menganalisis kedua putusan dengan menggunakan metode penelitian normatif. Kesimpulan dalam kajian ini adalah bahwa pengujian unsur penyalahgunaan wewenang yang dilakukan oleh hakim PTUN Medan dan hakim PTUN Jambi, ditinjau dari prinsip dan norma yang tertuang dalam peraturan perundang-undangan dalam hukum administrasi adalah tidak tepat. Alasannya adalah bahwa hal itu tidak sesuai dengan ketentuan yang tertuang dalam Undang-Undang Administrasi Pemerintahan dan Perma Nomor 4 Tahun 2015.

Kata kunci: penyalahgunaan wewenang; pejabat pemerintahan; diskresi.


ABSTRACT

Law Number 30 of 2014 concerning Government Administration and Supreme Court Regulations have expanded the absolute competence of the PTUN to examine the elements of abuse of power, thus providing room for bodies and/or government of cials who feel their interests are being harmed by the results of supervision by the internal control apparatus government (APIP). In practice, there are con icts in the implementation of the new paradigm concept. This can be viewed, among others, in the Medan Administrative Court Decision Number 25/G/2015/ PTUN-MDN, and the Jambi Administrative Court Decision Number 2/P/PW/2017/PTUN.JBI. In these decisions, there is an issue in examining the elements of abuse of authority against the Medan Administrative Court Decision and the Jambi Administrative Court Decision, namely whether it is in accordance with the principles and norms in administrative law. In this article, the authors analyze both decisions using normative research methods. The conclusion in this study is the case that the examination of the elements of abuse of power carried out by judges of Medan Administrative Court and Jambi Administrative Court. In terms of the principles and norms contained in the statutory regulations in administrative law is inappropriate. The reason is simply not in accordance with the provisions contained in the Government Administration Law and Perma Number 4 of 2015.

Keywords: power abuse; government of cials; discretion. 

 


Keywords


power abuse; government of cials; discretion

Full Text:

PDF

References


Buku

Hadjon, P. M. et al. (2012). Hukum administrasi & tindak pidana korupsi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Hadjon. P. M. (1987). Perlindungan hukum bagi rakyat di Indonesia. Surabaya: Bina Ilmu.

___________. (2010). Hukum administrasi & good governance. Jakarta: Universitas Trisakti.

Indroharto. (2005). Usaha memahami undang-undang tentang peradilan tata usaha negara buku II beracara di pengadilan tata usaha negara. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Latif, A. (2016). Hukum administrasi dalam praktik tindak pidana korupsi. Jakarta: Prenada Media Group.

Lotulung, P. E. (1986). Beberapa sistem tentang kontrol segi hukum terhadap pemerintah. Jakarta: PT Bhuana Ilmu Populer.

Marzuki, P. M. (2012). Penelitan hukum. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Mawardi, I. (2016). Paradigma baru PTUN respon peradilan administrasi terhadap demokratisasi. Yogyakarta: Thafa Media.

Mertokusumo, S. (2010). Mengenal hukum suatu pengantar. Yogyakarta: Cahaya Atma Pustaka.

Pontier. (2008). Rechtsvinding (Penemuan hukum). Shidarta, B. A. (Ed.). Bandung: Pustaka Sutra.

Puspitadewi, R. (2017). Penerapan hermeneutika di ranah hukum. Bandung: Unpar Press.

Ridwan, H. R. (2014). Diskresi & tanggung jawab pemerintah. Yogyakarta: FH UII Press.

Sadjijono. (2011). Bab-bab pokok hukum administrasi, Yogyakarta: Laksbang Pressindo.

Scholten, P. (2013). De structuur der rechtswetenschap (Struktur ilmu hukum). Shidarta, B. A. (Ed.). Bandung: Alumni.

Simanjuntak, E. (2018). Hukum acara peradilan tata usaha negara (Transformasi & refleksi). Jakarta: Sinar Grafika.

Singh, M. P. (1985). German administrative law: In common law perspective. Verlag Berlin Heidelberg: Springer.

Stroink, F. A. M., & Steenbeek, J. G. (1985). Inleiding in het staats-en sdministratief recht. Alphen aan den Rijn: Samsom. H. D. Tjeenk Willink.

Tjandra, R. (2015). Peradilan tata usaha negara: Teori & praktik. Yogyakarta: Cahaya Atma Pustaka.

_________. (2018). Hukum administrasi negara. Jakarta: Sinar Gra ka.

Wagner, A., et al. (2007). Interpretation, law & construction of meaning (Collected papers on legal interpretation in theory, adjudication & political practice). Netherlands: Springer.

Yasin, M., et al. (2017). Anotasi Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan. Jakarta: Universitas Indonesia-Center for Study of Governance and Admninistrative Reform (UI-CSGAR).

Jurnal

Hadjon, P. M. (2015, Maret). Peradilan tata usaha negara dalam konteks Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan. Jurnal Hukum dan Peradilan, 1(1), 51-64.

Nurudin, A. (2016). Diskresi yudisial: Antara keadilan & pencitraan. Jurnal Masalah-Masalah Hukum, 45(1), 18-24.

Parchomiuk, J. (2018). Abuse of discretionary powers in Administrative Law. Evolution of the judicial review models: from “administrative morality to the principle of proportionality.” Casopis pro pravni vedu praxis, XXVI(3), 453-478.

Rini, N. S. (2018). Penyalahgunaan kewenangan administrasi dalam Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi. Jurnal Penelitian Hukum De Jure, 18(2), 257-274.

Soehartono. (2012, Mei-Agustus). Eksistensi asas-asas umum pemerintahan yang baik sebagai dasar pengujian keabsahan keputusan tata usdaha negara di peradilan tata usaha negara. Jurnal Yustisia. 1(2). 180-193.

Srijayashree, G., & Ahmed, S. M. R. (2017). Study on the rules of statutory interpretation. International Journal of Current Advanced Research, 6(9), 6032-6035.

Suhariyanto, B. (2014, Desember). Penafsiran hakim tentang konstitusionalitas & pelanggaran hak asasi manusia dalam pidana mati. Jurnal Yudisial, 7(3), 237-254.

Susilo, A. B. (2007, Januari). Kontrol yuridis PTUN dalam menyelesaikan sengketa tata usaha negara di tingkat daerah. Jurnal Hukum, 1(14), 58-82.

Yulius. (2015). Perkembangan pemikiran & pengaturan penyalahgunaan wewenang di Indonesia (Tinjauan singkat dari perspektif hukum administrasi negara pasca berlakunya Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014). Jurnal Hukum dan Peradilan, 4(3), 361-384.

Sumber lainnya

Atmasasmita, R. (2015, Maret 26). Penyalahgunaan wewenang oleh penyelenggara negara. [Makalah disampaikan dalam Seminar Nasional IKAHI]. Hotel Mercure, Jakarta.

Hamzah, G. (2016, Januari 26). Paradigma baru penyelenggaraan pemerintahan berdasarkan Undang-Undang Administrasi Pemerintahan (Kaitannya dengan perkembangan hukum acara peratun). [Makalah pada Seminar Sehari dalam rangka HUT Peradilan Tata Usaha Negara ke-26 dengan tema: Paradigma Baru Penyelenggaraan Pemerintahan Berdasarkan Undang-Undang Administrasi Pemerintahan, kaitannya dengan Perkembangan Hukum Acara Peratun]. Hotel Mercure, Jakarta.




DOI: http://dx.doi.org/10.29123/jy.v13i2.350

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2021 Jurnal Yudisial

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.