DISPARITAS PUTUSAN ISBAT NIKAH DALAM PERKAWINAN DI BAWAH UMUR
DOI:
https://doi.org/10.29123/jy.v19i1.762Kata Kunci:
disparitas putusan, isbat nikah, perkawinan di bawah batas usia minimum, legalisme normatif, progresivisme yudisialAbstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis disparitas pertimbangan hukum hakim dalam memutus permohonan isbat nikah bagi pasangan yang melangsungkan perkawinan sebelum memenuhi batas usia minimum tanpa memperoleh dispensasi kawin terlebih dahulu. Kajian difokuskan pada dua putusan berbeda, yaitu Putusan Nomor 155/Pdt.P/2024/PA.JB dan Nomor 41/Pdt.P/2024/PA.Lbg. Disparitas ini berakar pada variasi metode penemuan hukum (rechtsvinding) yang diterapkan hakim dalam merespons tidak adanya permohonan dispensasi kawin sebelum akad nikah. Metode penelitian yang digunakan adalah hukum normatif dengan pendekatan kasus dan perbandingan. Hasil penelitian mengungkap adanya perbedaan mendasar dalam pemaknaan syarat sah perkawinan dan batas usia minimum berdasarkan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019. Di satu sisi, hakim mengadopsi pendekatan formal-legalistik dengan menolak permohonan untuk menjamin kepastian hukum. Di sisi lain, hakim cenderung mengesahkan perkawinan guna melindungi hak-hak keperdataan anak dan istri. Kebaruan penelitian ini terletak pada temuan bahwa disparitas tersebut tidak sekadar merupakan perbedaan interpretasi teknis atas ketentuan hukum, melainkan merefleksikan konflik paradigmatik antara legalisme normatif dan progresivisme yudisial dalam peradilan agama. Penelitian ini memberikan kontribusi teoretis terkait pertentangan antara nilai keadilan substantif dan rigiditas norma hukum positif dalam penyelesaian perkara keluarga. Temuan ini menegaskan bahwa penyeragaman pedoman yudisial pada tingkat administratif masih belum memadai, sehingga diperlukan rekonstruksi pemikiran hukum yang dapat menjembatani perlindungan hukum oleh negara dan kemaslahatan subjek hukum yang belum memenuhi batas usia minimum perkawinan.
Referensi
Amin, M. (2021). Penolakan itsbat nikah perkawinan anak di bawah umur di Pengadilan Agama Manna dalam penetapan Perkara Nomor 0092/Pdt.P/2018/PA.Mna perspektif hukum Islam dan hukum positif. Qiyas: Jurnal Hukum Islam & Peradilan, 6(1), 54-67.
Anggelia, A., & Purwanti, A. (2020). Kebijakan perlindungan anak terhadap eksploitasi seksual melalui nikah siri dalam perspektif hukum nasional di Indonesia. Jurnal Jurisprudense, 10(1), 109-126. https://doi.org/10.23917/jurisprudence.v10i1.10974.
Armia, M. S. (2022). Penentuan metode dan pendekatan penelitian hukum. Fahmi, I. C. (Ed.). Banda Aceh: Lembaga Kajian Konstitusi Indonesia (LKKI) Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh. https://repository.ar-raniry.ac.id/id/eprint/22862.
Atikasar, V., Erowati, E. M., & Pudyastiwi, E. (2020). Perkawinan di bawah umur dalam perspektif Undang-Undang Perkawinan dan Undang-Undang Perlindungan Anak. Cakrawala Hukum: Majalah Ilmiah Fakultas Hukum Universitas Wijayakusuma, 22(2), 64-71. https://doi.org/10.51921/w7eyh321.
Aziz, A., Maksum, G., & Nugraha, I. S. (2024). Isbat nikah dalam legalitas hukum Islam dan perdata di Indonesia perspektif maslahah mursalah. Tasyri’: Journal of Islamic Law, 3(2), 361-382. https://doi.org/10.53038/tsyr.v3i2.141.
Tim Penyusun. (2024). Statistik Pemuda Indonesia 2024. Jakarta: Direktorat Statistik Kesejahteraan Rakyat Badan Pusat Statistik.
Dikuraisyin, B., Sumarkan., Fatwa, A. F., & Ghozali, M. L. (2024). Reconstruction of marriage law: Judges’ progressive reasoning based on maqāṣid in addressing divergent interpretations in Indonesian courts. Al-Manahij: Jurnal Kajian Hukum Islam, 18(2), 219-236. https://doi.org/10.24090/mnh.v18i2.9436.
Dimitrijevic, J. (2024). The moral responsibility of the judges: Should judges enforce the law even if the implementation of that law would be immoral? Theoria Beograd, 67(4), 219-228. https://doi.org/10.2298/THEO2404219D.
Ernawati, E., Abdullah, A. G., & Subhan, Z. (2023). Child participation in marriage dispensation in southeast asian muslim countries from the perspective of the Convention on the Rights of the Child. Journal of World Science, 2(8), 1137-1148. https://doi.org/10.58344/jws.v2i8.393.
Hasan, M. (2023). Construction of modern Islamic inheritance law based on ijtihad of the judges at the religious court of Pontianak, West Kalimantan. Samarah: Jurnal Hukum Keluarga dan Hukum Islam, 7(2), 650-668. https://doi.org/10.22373/sjhk.v7i2.8852.
Hidayah, N., & Azis, A. (2023). Implementation of progressive law in sharia banking dispute settlement: Case study of religious court decisions in Indonesia. Ulumuna, 27(1), 227-257. https://doi.org/10.20414/ujis.v27i1.652.
Hijawati, H., & Sardana, L. (2023). Isbat nikah sudut pandang Undang-Undang Perkawinan. Solusi, 21(1), 102-110. https://doi.org/10.36546/solusi.v21i1.810.
Insani, N., Beddu, S., Rahman, R., Arpin, A., & Samuri, M. A. A. (2024). Judicial considerations in child marriage dispensations: An empirical study of the Gorontalo Religious Court. Jurnal Ilmiah Al-Syir’ah, 22(1), 41-52. https://doi.org/10.30984/jis.v22i1.2066.
Isnantiana, N. I. (2017). Legal reasoning hakim dalam pengambilan putusan perkara di pengadilan. Islamadina, 18(2), 41-56. https://doi.org/10.30595/islamadina.v18i2.1920.
Maryati, S., Achmad, H., Achmad, A. D., & Ramli, M. A. (2024). The dynamic landscape of interfaith marriage in Indonesia: Navigating the Supreme Court Circular Letter (SEMA) No. 02 of 2023 and Population Administration Law. Daengku: Journal of Humanities and Social Sciences Innovation, 4(3), 489-502. https://doi.org/10.35877/454RI.daengku2613.
Maulana, M., & Hulaifi, A. (2025). Implikasi hukum terhadap anak yang lahir dari perkawinan tidak tercatat di Kabupaten Subang, Kecamatan Ciater. Simpul: Jurnal Ilmu Politik dan Hukum, 1(1), 24-29. https://doi.org/10.71094/simpul.v1i1.78.
Mesraini., Rahmatullah, I., & Mahmud, A. A. (2020). Teori hukum feminisme dan kaidah fikih sebagai pertimbangan hakim dalam perkara dispensasi kawin (Studi Penetapan Hakim Nomor 10/Pdt.P/2017/PA.Bjn di Pengadilan Agama Bojonegoro). Palastren: Jurnal Studi Gender, 13(1), 139-162.
Moelyono, A., Patria, R. Y., & Dwiarti, F. S. (2022). Marriage dispensation policy in children protection: Evaluation of Article 7 Paragraph (2) of Law Number 16 of 2019 concerning amendments to Law Number 1 of 1974 concerning marriage). Al-Mashlahah: Jurnal Hukum Islam dan Pranata Sosial, 10(1), 75-90. https://doi.org/10.30868/am.v10i01.2255.
Morrison, W. (2016). Jurisprudence: From the Greeks to post-modernism. New York: Routledge.
Nur, J., Lewa, I., & Maloko, M. T. (2023). Legal protection of the issuance of birth certificates of children from unregistered marriages. Parewa Saraq: Journal of Islamic Law and Fatwa Review, 2(2), 69-82. https://doi.org/10.64016/parewasaraq.v2i2.24.
O’Cinneide, C. (2010). The uncertain foundations of contemporary anti-discrimination law. SSRN Electronic Journal. https://doi.org/10.2139/ssrn.1769068.
Pardede, J. N., Asih, W. T., & Siregar, T. A. (2021). Progressivism of judges in deciding applications for marriage dispensation. Lambung Mangkurat Law Journal, 6(1), 41-55. https://doi.org/10.32801/lamlaj.v6i1.208.
Prameswari, Z. W. A. W. (2017). Ratifikasi konvensi tentang hak-hak anak dalam sistem peraturan perundang-undangan di Indonesia. Yuridika, 32(1), 167-188. https://doi.org/10.20473/ydk.v32i1.4842.
Radbruch, G. (1997). Filosofia do direito (Armenio Am). Portugal: Coimbrea.
Rodliyah, N., Murdiana, E., & Andreas, R. (2025). Judicial ijtihad in religious courts for achieving substantive
justice in Indonesia. Journal of Law and Regulation Governance, 2(12), 372-380. https://doi.org/10.57185/jlarg.v2i12.79.
Salam, S. (2019). Rekonstruksi paradigma filsafat ilmu: Studi kritis terhadap ilmu hukum sebagai ilmu. Ekspose: Jurnal Penelityian Hukum dan Pendidikan, 18(2), 885-896. https://doi.org/10.30863/ekspose.v18i2.511.
Sarkanto, & Widiyanto, H. (2024). Unregistered marriages in islamic law: Ensuring children’s rights amidst legal validity. Amorti: Jurnal Studi Islam Interdisipliner, 3(3), 128-138. https://doi.org/10.59944/amorti.v3i3.345.
Shcherbanyuk, O., Gordieiev, V., & Bzova, L. (2023). Legal nature of the principle of legal certainty as a component element of the rule of law. Juridical Tribune, 13(1), 21-31. https://doi.org/10.24818/TBJ/2023/13/1.02.
Solekah, N. N., & Zulaicha, S. (2024). Implikasi penolakan itsbat nikah terhadap status anak. Sakina: Journal of Family Studies, 8(1), 135-149. https://doi.org/10.18860/jfs.v8i1.5706.
Solihandhana, P. P., Zarzani, T. R., & Siregar, M. A. (2025). Implementation of marriage itsbat on unrecorded marriage study of deternation of Lubuk Pakam Religious Court (Number 17/Pdt.P/2024/PA.Lpk). International Journal of Synergy in Law, Criminal, and Justice, 2(1), 476-481. https://doi.org/10.70321/ijslcj.v2i1.94.
Tan, W., Agustianto, A., & Jaya, F. (2024). Legal dilemma between law on protection child and Marriage Law in addressing early marriage. Justisi, 10(2), 396-404. https://doi.org/10.33506/js.v10i2.2814.
Tarais, Y., & Hartini, H. (2023). Qualification of child status from unregistered polygamous marriage without marriage validation (Study of Religious Court Decisions from 2019-2022). Pandecta Research Law Journal, 18(1), 112-122. https://doi.org/10.15294/pandecta.v18i1.45534.
Von Savigny, F. K. (1867). System of the modern Roman Law vol. I. Holloway, W. (Ed.). Madras, India: Higginbotham.
Yulinda, D. (2023). Pertimbangan hakim dalam dispensasi nikah anak di bawah umur di Pengadilan Agama Kelas 1A Mataram. Fundamental: Jurnal Ilmiah Hukum, 12(2), 506–526. https://doi.org/10.34304/jf.v12i2.173.
Zegarlicki, J. (2017). Legal certainty as an important value of the rule of law. Filozofia Publiczna I Edukacja Demokratyczna, 6(2), 143-166. https://doi.org/10.14746/fped.2017.6.2.19
Unduhan
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2026 Siti Nur Azizah, Achmad Muchsin

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution 4.0 International License.










