PENAFSIRAN HUKUM “MELANGGAR KESUSILAAN” DALAM UNDANG-UNDANG INFORMASI DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK

Hwian Christianto

Abstract


ABSTRAK

Putusan atas perkara penyebarluasan informasi elektronik yang melanggar kesusilaan menimbulkan perdebatan. Pemahaman atas frasa “melanggar kesusilaan” sebagai unsur perbuatan pidana Pasal 27 ayat (1) juncto Pasal 45 ayat (1) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008, tidak mendapatkan penjelasan secara mendalam oleh hakim pada tingkat pertama, kasasi, maupun peninjauan kembali. Masalah yang layak dikaji lebih lanjut terkait dengan (1) arti penting pemahaman frasa “melanggar kesusilaan” dalam Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik; serta (2) metode penafsiran yang digunakan oleh hakim dalam memahami frasa “melanggar kesusilaan.” Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman atas frasa “melanggar kesusilaan” dipahami sebatas unsur perbuatan yang dianggap terpenuhi menggunakan penafsiran sistematis dan penafsiran gramatikal merujuk pada hal seksualitas. Hal tersebut tidak bersesuaian dengan pemaknaan frasa “melanggar kesusilaan” sebagai unjuk bukti dan fungsi instrumental, yang mewajibkan hakim menggali dan memberlakukan nilai hukum yang hidup di masyarakat. Norma kesusilan harus digali sebagai pemahaman akan sifat melawan hukum materiil dari perbuatan penyebarluasan informasi elektronik yang melanggar kesusilaan.

Kata kunci: pelanggaran kesusilaan; informasi elektronik; melawan hukum materiil.

 

ABSTRACT

The court decision on the case of electronic information dissemination that violates decency has sparked debate. The understanding of “violating decency” as an element of a criminal act of Article 27 paragraph (1) in conjunction with Article 45 paragraph (1) of Law Number 11 of 2008, did not receive an in-depth explanation by the judges at first level court, cassation, or case review. Issues to be further discussed are related to (1) the importance of understanding “violating decency” in the Law on Information and Electronic Transactions; and (2) the method of interpretation used by the judge in understanding “violating decency”. The research method used is normative juridical. The results shows that the understanding of “violating decency” is limited to an element of action, which is considered fulfilled, using a systematic and grammatical interpretation referring to sexuality issue. This is not in accordance with the meaning of “violating decency” as showing evidence and instrumental function, which obliges judges to explore and enforce legal values living in the society. Decency norm should be explored as a relevant understanding of tort against the substantive law on electronic information dissemination actions violating decency.

Keywords: decency violation; electronic information; violation to substantive law.


Keywords


decency violation; electronic information; violation to substantive law

Full Text:

PDF

References


Buku

Hiariej, E. O. S. (2016). Prinsip-prinsip hukum pidana. Edisi Revisi. Yogyakarta: Cahaya Atma Pustaka.

McLeod, T. I. (1996). Legal method. London: Palgrave.

Remmelik, J. (2003). Hukum pidana: Komentar atas pasal-pasal terpenting dari kitab undang-undang hukum pidana Belanda & padanannya dalam kitab undang-undang hukum pidana Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Schaffmeister, D., Keijzer, N., & Sutorius, E. P. H. (1995). Hukum pidana. Sahetapy, J. E., & Pohan, A. (Ed.). Yogyakarta: Liberty.

Tim Panitia Kongres Pancasila IX. (2017). Pancasila dasar negara: Kursus Presiden Soekarno tentang Pancasila. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Jurnal

Adhari, A. (2018, Agustus). Konstitusionalitas materiele wederrechtelijk dalam kebijakan pemberantasan tindak pidana korupsi. Jurnal Yudisial, 11(2), 131-150.

Angkupi, R. (2017, May). Cultural approaches in cyberporn crime prevention. Jurnal Dinamika Hukum, 17(2), 225-231.

Aranggraeni, R. (2019, September). Proses pemeriksaan perjudian sebagai tindak pidana kesusilaan. Jurist-Diction, 2(5), 1799-1813.

Atkinson, R., & Rodgers, T. (2015, October). Pleasures zones & murder boxes: Online pornography & violent video games as cultural zones of exception. International British Journal of Criminology, 56(6), 1291-1307.

Baude, W., & Sachs, S. E. (2017, February). The law of interpretation. Harvard Law Review, 130(4), 1079-1147.

Christianto, H. (2017a, Juni). Mekanisme penegakan hukum perkara pidana pornografi melalui internet. Jurnal Veritas et Justitia, 3(1), 117-137.

____________. (2017b, September). Imposition nature against material law under judge verdict of cyberporn case in east java. Jurnal Dinamika Hukum, 17(3), 288-295.

____________. (2017c, Maret). Kajian filsafat tentang perbuatan pornografi internet (Cyberporn). Jurnal Argumentum, 2(1), 291-311.

Edlund, H. (2020, May). An analysis of American public libraries’ policies on patron use of internet pornography. Open Information Science, 4(1), 58-74.

Efendi, A. (2019, Desember). Interprestasi modern makna menyalahgunakan wewenang dalam tindak pidana korupsi. Jurnal Yudisial, 12(3), 327-344.

Had, G. M., & Štulhofer, A. (2016, September). What types of pornography do people use & do they cluster? Assessing types & categories of pornography consumption in a large-scale online sample. Journal of Sex Research, 53(7), 849-859.

Jamin, M. (2020, January). Reinforcing the status of customary law as a basis for adjudicating in the judicial power system in Indonesia. International Journal of Advanced Science and Technology, 29(3), 5101-5114.

Kirchengast, T. (2016, Desember). The limits of criminal law & justice ‘revenge porn’ criminalisation, hybrid responses, & the ideal victim. UniSA Student Law Review, 2(42), 96-101.

Monteiro, J. M. (2018, Juni). Teori penemuan hukum dalam pengujian undang-undang & peraturan pemerintah pengganti undang-undang. Jurnal Prioris, 6(3), 267-286.

Moreira, D., et.al. (2016, November). Pornography classi cation: The hidden clues in video space–time. Forensic Science International, 268, 46-61.

Mujahidin, M. (2015, Juni). Umat beragama sebagai masyarakat beradab: Identitas agama vs kebangsaan. Jurnal Kalam: Jurnal Studi Agama dan Pemikiran Islam, 9(1), 17-30.

Ramli, T. S., et.al. (2020, Maret). Aspek hukum atas konten hak cipta dikaitkan dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi & Transaksi Elektronik. Jurnal Legislasi Indonesia, 17(1), 62-69.

Said, I. M. (2012, Juni). Kajian semantik terhadap produk hukum tertulis di Indonesia. Jurnal Mimbar Hukum, 24(2), 187-375.

Saulawa, M. A. (2015, April). Cyberpornography: An analysis of the legal framework. Global Journal of Politics and Law Research, 3(2), 45-56.

Sitompul, J. (2015). Membangun parameter intersubjektif pornografi dengan perspektif postmodernisme (Studi Kasus Putusan Nomor 39/PID.SUS/2014/PN.WSB). Jurnal Hukum & Pembangunan, 45(3), 1-28.

Subibharta. (2015, November). Moralitas hukum dalam hukum praktis sebagai suatu keutamaan. Jurnal Hukum dan Keadilan, 4(3), 385-397.

Sumber lainnya

Ariefana, P. (2019). Baiq Nuril tetap dipenjara, ini kronologi kasus percakapan mesum kepsek. Diakses dari https://www.suara.com/news/2019/07/05/110606/baiq-nuril-tetap-dipenjara-ini-kronologi-kasus-percakapan-mesum-kepsek.

KompasTV. (2019). Baiq Nuril, korban pelecehan divonis 6 bulan penjara. Diakses dari https://www.kompas.tv/article/50114/baiq-nuril-korban-pelecehan-divonis-6-bulan-penjara.

Moeljatno. (1983). Perbuatan pidana & pertanggungjawaban pidana dalam hukum pidana. Pidato pada Upacara Peringatan Dies Natalis ke-6 Universitas Gadjah Mada, Sitihinggil 19 Desember 1955. Yogyakarta: Bina Aksara.

Panitera Mahkamah Agung Republik Indonesia. (2018). Putusan Nomor 574 K/Pid.Sus/2018 tanggal 26 September 2018. Jakarta: Mahkamah Agung Republik Indonesia.

Panitera Mahkamah Agung Republik Indonesia. (2019). Putusan Nomor 83 PK/PID.SUS/2019. Diakses dari putusan.mahkamahagung.go.id.

Panitera Pengadilan Negeri Mataram. (2017). Putusan Pengadilan Negeri Mataram Nomor 265/Pid.Sus/2017/ PN.MTR Tanggal 26 Juli 2017 Perkara Pidana An. Baiq Nuril Maknun. Mataram: Pengadilan Negeri Mataram.

Sekretariat Jenderal DPR RI. (2008). Proses pembahasan Rancangan Undang-Undang tentang Informasi dan Transaksi Elektronik Buku I. Jakarta: Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia.

Sekretariat Jenderal DPR RI. (2008). Risalah sidang RUU ITE. Jakarta: Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.

Sekretariat Jenderal DPR RI. (2011). Naskah Akademik RUU ITE. Jakarta: Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.




DOI: http://dx.doi.org/10.29123/jy.v14i1.423

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2021 Jurnal Yudisial

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.